PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU DAN SEBAGAI SISTEM

  1. Pendidikan Sebagai Ilmu

Menurut George F.Kneller kata teori mempunyai 2 makna sentral yaitu (1) teori dapat menunjuk suatu hipotesis yang telah diverifikasi dengan observasi atau eksperimen, memandang teori dalam artian ini teori pendidikan pengembangan. (2) teori dapat merupakan sinonim umum untuk pemikiran sistematik, memandang teori ini pendidikan telah menghasilkan banyak teori.

Menurut Ernest E.Bayles teori pendidikan tidak hanya berkenan dengan apa yang ada tapi juga apa yang seharusnya ada. D.H Hirst berpendapat bahwa fungsi utama dari teori pendidikan adalah untuk membimbing praktek pendidikan. Pengertian ilmu pendidikan menurut para ahli :

Ø M.J. Langeveld, ilmu yang bukan saja menelaah objeknya untuk mengetahui tapi juga mempelajari betapa hendaknya bertindak.

Ø S. Brojonegoro, ilmu pendidikan yaitu teori pendidikan, perenungan tentang pendidikan, dalam arti luas ilmu pendidikan yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktek pendidikan.

Ø Carter V. Good, suatu bangunan yang sistematis mengenai aspek-aspek kuantitatif, objektif dan proses belajar, menggunakan instrument secara seksama dalam mengajukan hipotesis-hipotesis pendidikan untuk diuji dan pengalaman seringkali dalam eksperimental.

Ø Imam Barnadib, ilmu yang membicarkan masalah-masalah umum pendidikan secara menyeluruh dan abstrak. Ilmu pendidikan bercorak teoritis dan bersifat praktis.

Ø Driyarkara, pemikiran ilmiah yang bersifat kritis, metodis, dan sistematis tentang realitas yang disebut pendidikan.

1. Persyaratan pendidikan sebagai ilmu

Suatu kawasan studi dapat tampil sebagai disiplin ilmu, bila memenuhi syarat-syarat :

  • · Memiliki objek studi (formal dan material)
  • · Memiliki sistematika
  • · Memiliki metode

Ø Objek material ilmu pendidikan adalah perilaku manusia. Objek formalnya adalah menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integrative.

Ø Sistematika ilmu pendidikan dibedakan menjadi 3 bagian yaitu,

1. Pendidikan sebagai gejala manusiawi, dapat dianalisis yaitu adanya komponen pendidikan yang saling berinteraksi dalam suatu rangkaian keseluruhan untuk mencapai tujuan. Komponen pendidikan itu adalah : (a) tujuan pendidikan, (b) peserta didik, (c) pendidik, (d) isi pendidikan, (e) metode pendidikan, (f) alat pendidikan, (g) lingkungan pendidikan.

2. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia. Menurut Noeng Muhadjir sistematika ini bertolak dari fungsi pendidikan, yaitu : (a) menumbuhkan kreatifitas peserta didik, (b) menjaga lestarinya nilai insani dan nilai ilahi, (c) menyiapkan tenaga produktif.

3. Pendidikan sebagai gejala manusiawi. Menurut Mochtar Buchori ilmu pendidikan mempunyai 3 dimensi : (1) dimensi lingkungan pendidikan, (2) dimensi jenis-jenis persoalan pendidikan, (3) dimensi waktu dan ruang.

Ø Memliki metode-metode dalam ilmu pendidikan :

1. Metode normative, berkenaan dengan konsep manusiawi yang diidealkan yang ingin dicapai.

2. Metode eksplanatori, berkenaan dengan pertanyaan kondisi, dan kekauatan apa yang membuat suatu proses pendidikan berhasil.

3. Metode teknologis, berkenaan dengan bagaimana melakukannya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.

4. Metode deskriptif, fenomenologis mencoba menguraikan kenyataan-kenyataan pendidikan dan lalu mengklasifikasikannya.

5. Metode hermeneutis, untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis untuk menjelaskan makna dan struktur dan kegiatan pendidikan.

6. Metode analisis kritis, menganalisis secara kritis tentang istilah, pernyataan, konsep, dan teori yang ada dalam pendidikan.

2. Sifat-sifat ilmu pendidikan

Ø Empiris, karena objeknya dijumpai dalam dunia pengalaman.

Ø Rokhaniah, karena situasi pendidikan berdasar atas tujuan manusia tidak membiarkan pesrta didik kepada keadaan alamnya.

Ø Normatif, karena berdasar atas pemilihan antara yang baik dan yang buruk.

Ø Histories, karena memberikan uraian teoritis tentang sitem-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan mengingat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada jaman tertentu.

Ø Praktis, karena memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan pendidikan yang langsung ditujukan kepada perbuatan mendidik.

3. Pengembangan pendidikan

Menurut Van Cleve Morris, fondasi pendidikan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

Ø Fondasi histories dan filosofis tentang pendidikan, sejarawan ingin mengetahui bagaimana kita sampai disini. Filsuf pendidikan ingin mengetahui bagaimana manusia memikirkan kehidupan secara keseluruhan akhirnya sejarawan dan filsuf pendidikan berpendapat bahwa tidak ada guru yang mengetahui apa yang sedang ia perbuat jika ia tidak dapat melihat pekerjaan profesionalnya dalam konteks suatu lingkungan masa sekarang mengenal ideologi pendidikan yang berkompetisi.

Ø Fondasi sosiologis dan psikologis. Ahli sosilogi pendidikan ingin mengetahui bagaimana dampak masyarakat pada pertumbuhan anak. Ahli psikologi pendidikan ingin mengetahui apa yang terjadi apabila belajar terjadi dan apa yang harus dilakukan untuk menjadikan belajar terjadi setiap hari. Akhirnya ahli sosiologi dan psikologi pendidikan berpendapat bahwa tidak ada guru yang mengetahui apa yang sedang ia perbuat jika ia tidak dapat mengenal seberapa banyak anak belajar dan orang lain selain guru, dan memahami teori-teori belajar yang pokok dimana pengajaran modern didasarkan.

  1. Pendidikan Sebagai Sistem

1. Pengertian sistem

Sistem adalah suatu rangkaian keseluruhan kebulatan kesatuan dan komponen-komponen yang salin berinteraksi atau interdependensi dalam mencapai tujuan. Suatu system mengandung hal-hal sebagai berikut :

  • · Adanya suatu kesatuan organis
  • · Adanya komponen yang membentuk kesatuan organis
  • · Adanya hubungan keterkaitan antara komponen satu dengan yang lain
  • · Adanya gerak dan dinamika
  • · Adanya tujuan yang ingin dicapai

Sistem pendidikan akan selalu bersifat dinamis, kontekstual dan untuk itu suatu system pendidikan haruslah terbuka terhadap tuntutan kualitas dan relevansi.

2. Komponen-komponen upaya pendidikan

Upaya pendidikan merupakan aktifitas yang kompleks yang melibatkan sejumlah komponen pendidikan yang saling berinteraksi atau interdependensi satu sama lain. Komponen sentral dalam upaya pendidikan adalah peserta didik, pendidik, dan tujuan pendidikan. Dalam interaksi pendidikan dapat mencakup apa yang dilakukan oleh pendidik dan apa yang dipakai dalam interaksi, suatu tempat dimana terjadi proses pendidikan.

3. Saling hubungan antar komponen

Proses pendidikan terjadi apabila antar komponen pendidikan yang ada di dalam upaya pendidikan itu saling berhubungan secara fungsional dalam satu kesatuan yang terpadu.

Dalam suatu proses pendidikan, pendidik memiliki tujuan pendidikan yang hendak dicapai kepentingan peserta didik. Untuk mencapai tujuan ini disamping ada berbagai sumber yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik untuk memperkaya isi pendidikan, pendidik juga menggunakan metode dan alat pendidikan.

4. Pencapaian tujuan yang di inginkan

Untuk mencapai tujuan pendidikan perlulah disusun dan difungsionalkan suatu sistem, penyelenggaraan pendidikan yang baik. Berbagai komponen dalam sistem perlu dikenali, dipahami dan dikembngkan secara seksama, sehingga kelemahan masing-masing komponen dapat diketahui. Apabila suatu upaya pendidikan dirasa kurang berhasil maka pendekatan sistem menasihatkan untuk mengkaji komponen yang perlu diperbaiki. Apabila sebagian besar komponen ternyata tidak mungkin lagi berfungsi secara baik maka perlu diadakan pembaharuan keseluruhan komponen.

Berdasar uraian diatas pendekatan sistem terhadap upaya pendidikan dapat menghasilkan kebijakan yang berupa pembaharuan sebagian atau menyeluruh.

5. Sistem pendidikan dalam kerangka yang lebih luas

6. Tantangan sistem pendidikan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang spektakuler memaksa setiap bangsa senantiasa berupaya untuk menjadikan sistem pendidikan yang dimilkinya lebih dinamis dan lebih responsive terhadap perubahan-perubahan sstem pendidikan dituntut memiliki 3 komponen, yaitu :

1. Kemampuan untuk mengetahui pola perubahan dan kecenderungan yang sedang berjalan.

2. Kemampuan untuk menyusun gambar tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh kecenderungan yang sedang berjalan.

3. Kemampuan untuk menyusun program-program penyesuaian diri.

About these ads

2 Komentar

  1. wah…infonya bagus

  2. thank bgt infonya.. *-*


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.