PENDIDIKAN DI ERA KHULAFAURRASYIDIN

PENDAHULUAN

Pendidikan mempunyai sejarah yang sangat panjang. Terlebih lagi adalah pendidikan agama Islam. Pendidikan dalam sejarah peradaban anak manusia adalah salah satu komponen kehidupan yang paling urgen. Aktifitas ini telah dan akan terus berjalan semenjak manusia pertama ada di dunia sampai berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Bahkan kalau ditarik mundur lebih jauh lagi, kita akan dapatkan bahwa pendidikan telah mulai berproses semenjak Allah Swt. menciptakan manusia pertama “Adam” di sorga dimana Allah telah mengajarkan kepada beliau semua nama-nama yang oleh para Malaikat belum dikenal sama sekali (QS Al-Baqarah: 31-33).

Dalam pengertian yang seluas-luasnya, pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, dimana Islam lahir dan pertama kali berkembang, kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan –untuk tidak menyebut sistem– merupakan transformasi besar. Sebab masyarakat Arab pra-Islam tidak mempunyai sistem pendidikan formal.

Pada masa awal perkembangan Islam, tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara. Pendidikan yang berlangsung bisa dikatakan bersifat informal: dan ini pun lebih berkaitan dengan upaya-upaya dakwah Islamiyyah, penyebaran dan penanaman dasar-dasar kepercayaan dan ibadah Islam. Dalam kaitan itulah bisa dipahami kenapa proses pendidikan Islam pertama kali berlangsung di rumah.[1]

Kehidupan dan jasa Muhammad akan mempengaruhi pandangan spiritual, politik, dan etika umat Islam untuk selamanya. Mereka mengekspresikan pengalaman “keselamatan” Islam, yang tidak akan tercapai dengan penebusan “dosa bawaan” yang dilakukan Adam dan hak memasuki kehidupan abadi, tetapi akan tercapai dengan prestasi masyarakat dalam melaksanakan perintah Tuhan.[2]

Dengan usaha yang sangat keras dan melewati berbagai tantangan, Muhammad berjuang dengan keras dalam rangka menyebarkan Islam kepada kaum Qurais. Penyebaran agama Islam tersebut semakin hari semakin meluas dan bertambah banyak kaum Qurais yang mengikuti ajaran-ajaran Muhammad. Ini merupakan suatu bukti bahwa Muhammad mengalami keberhasilan dalam mendidik, mengajarkan serta mengamalkan ajaran Islam kepada orang-orang Qurais.

Setelah wafatnya Muhammad penyebaran Islam dilanjutkan oleh sahabat-sahabat beliau, diantaranya adalah Khalifah Khulafaur Rasyidin, Muawiyah dan lain-lain. Maka dalam makalah kali ini kami akan memfokuskan pada masa Khalifah Khulafaur Rasyidin.

PEMBAHASAN

Semenjak manusia berinteraksi dengan aktifitas pendidikan, semenjak itulah manusia telah berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala lini kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah suatu yang alami dalam perkembangan peradaban manusia.[3]

Dan secara paralel proses pendidikan pun mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun target yang akan dicapai. Karena hal ini merupakan salah satu sifat dan keistimewaan dari pendidikan, yaitu selalu bersifat maju (Taqaddumiyyah). Sehingga apabila sebuah pendidikan tidak mengalami serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau malah menimbulkan kemunduran, maka tidaklah dinamakan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah aktifitas yang integral yang mencakup target, metode dan sarana dalam membentuk manusia-manusia yang mampu berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungannya, baik internal maupun eksternal demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik.[4]

Maka dari itu Islam berusaha untuk meningkatkan adanya pendidikan demi kesempurnaan diri. Usaha Muhammad yang secara mati-matian menyebarkan ajaran Islam mendapatkan respon positif dari masyarakar Qurais. Namun tidak sedikit yang menentang beliau. Namun dengan semangat yang berkobar akhirnya Muhammad berhasil menyebarkan ajaran Islam sampai ke negeri di luar Arab. Setelah Muhammad wafat, usaha penyebaran Islam maupun pendidikan dilanjutkan oleh Khalifah Khulafa’ur Rasyidin.

Periode Khulafa’ur Rasyidin yang berlangsung kurang lebih 30 tahun (th. 11 H/632 M-41H/661 M) dibawah empat orang Khalifah, yaitu Abu Bakar As-Siddik, Umar Ibn Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib.

Masa pemerintahan Abu Bakar sangat singgkat (632-634) tetapi sangat penting. Dia terutama berperan melawan Riddah (Kemurtadan) ketika beberapa suku mencoba melepaskan diri dari umat dan menegaskan lagi kemerdekaan mereka. Tetapi ini tidak bisa dianggap sebagai meluasnya pembelotan dari agama. Pemberontakan yang terjadi benar-benar murni Politis dan Ekopnomis.

Abu Bakar memadamkan pemberontakkan-pemberontakan dengan kebijaksanaan dan pengampunan, sehingga melengkapi univikasi Arab. Dia menangani keluhan-keluhan pemberontak dengan baik, sehingga tidak akan ada pembalasan bagi pemberontak yang kembali ke masyarakat. sebagian terpikat untuk kembali dengan harapan dapat mengambil bagian dalam rampasan-rampasan ghazwu yang menguntungkan di wilayah tetangga, dan yang mencapai momentum dramatik dibawah kekuasaan khalifah kedua, Umar Inb Khattab (634-644).[5]

Penyerbuan-penyerbuan itu merupakan reaksi terhadap masalah yang muncul dari perdamaian baru Islam di jazirah. Dibawah kepemimpinan Umar, orang-orang Arab menyerbu Irak, Syiria, dan Mesir dan mencapai serangkaian kemenangan besar. Mereka mengalahkan pasukan Persia dalam perang Qadisiyyah (637), yang menyebabkan runtuhnya ibukota Persia Sassanid di Ctesiphon.

Periode kemenagan ini menemui titik akhir dengan tiba-tiba pada bulan November 644, ketika Umar ditikam di Masjid madinah oleh seorang tawanan perang Persia yang mempunyai dendam pribadi kepadanya. Setelah kematian Umar, umat Islam mengangkat Utsman Ibn Affan sebagai khalifah ketiga yang diwakili oleh enam orang sahabat nabi. Karakter Utsman ini lebih lemah dari pada para khalifah pendahulunya. Tetapi selama enam tahun kepemimpinannya umat tetap hidup dengan sejahtera. Utsman memerintah dengan baik dan umat Islam yang lain menaklukkan daerah baru. Mereka merebut Cyiprus dari Bizantium yang akhirnya mengusir mereka dari Mediterania Timur dan Afrika Utara, pasukan mencapai Tripoli yang sekaramng menjadi Libya. Di Timur pasukan muslim merebut sebagian besar Armenia, menyusup ke Kaukasus dan membangun kekuasaan muslim sampai di sungai Oxus di Iran, Heart di Afganistan, dan Sind di anak benua India.

Dibalik kemenanga-kemenangan itu, para prajurit merasa tidak puas. Mereka sudah mengalami perubahan besar-besaran. Dalam waktu sekitar sepuluh tahun, mereka telah berubah memasuki gaya kehidupan berbeda dari nomaden yang kasar menjadi tentara professional.

Pada tahun 656 Ali diangakat menjadi khalifah baru oleh para pemberontak khalifah Utsman. Para pemberontak ini mengangkat Ali dengan alasan bahwa yang paling berhak menjadi pemimpin umat Islam setelah Abu Bakar adalah Ali. Ali di dukung Anshar Madinah, dan orang-orang Makah yang menolak kebangkitan Umayah. Dia juga memperoleh dukungan dari orang muslim yang masih menjalani kehidupan tradisional nomaden, terutama yang ada di Irak tempat kota Garnisum Kufah yang menjadi kubu Ali berada.[6]

Ali mendapat desakan oleh kaumnya untuk menghukum pembunuh Utsman, karena Ali tidak mau menghukum pembunuh Utsman tersebut, akhirnya Aisyah istri kesayangan Nabi bersama kerabatnya Thalhah bin Zubair salah satu sahabat Nabi dari Makkah menyerang Ali. Ali sangat kebingungan ketika mendapat desakan yang berbeda, yang satu menyerangnya dan yang lain mendesak dia agar tidak usah menghukum pembunuh Utsman, dengan alasan bahwa Utsman layak dibunuh karena tidak bisa memerintah dengan baik dan tidak sesuai dengan cita-cita Al-Qur’an.

Ali dibunuh oleh orang-orang Khawarij pada tahun 661. Pembunuhan Ali oleh orang Khawarij ini akibat dari perlakuan keras Ali kepada kaum Khawarij yang berakibat hilangnya pengaruh Ali kepada Khawarij. Akibat dari itulah Muawiyah terus mendapat dukungan dari orang-orang Islam. Dan dari itulah periode Kekhalifahan Khulafa’ur Rasyidin Berakhir.

Periode Khulafa’ur Rasyidin ini merupakan periode penyiaran Islam yang sangat berhasil, sehingga Islam mulai tersiar di luar jazirah Arabia. Pengaruh dan kekuasaan Islam telah meliputi Syiria (Syam), Irak, Persia dan Mesir. Hasil gemilang ini bersumber kepada beberapa faktor, diantaranya: hakikat ajaran Islam sendiri yang sederhana dan rasional, watak orang Islam sendiri yang penuh vitalitas-vitalitas yang berhasil digairahkan dengan ajaran Islam serta situasi sosial, budaya dan politik di timur pada saat lahirnya Islam terutama di dua Imperium Persia dan Bizantium.[7]

Keadaan ini mendorong khalifah-khalifah Ar-Rashidin untuk lebih mengkonsolidasikan kekuataan dan kemampuannya dalam rangka untuk mempersiapkan pegembangan dan penyiaran Islam lebih lanjut. Hal-hal yang dapat di catat segai langkah tersebut guna kepentingan Islam selanjutnya adalah:

  1. PENYUSUNAN MUSHAF AL-QURAN.

Sewaktu Nabi masih hidup tulisan-tulisan wahyu Al-Quran tercatat dalam lembaran yang terpisah-pisah serta ada pada beberapa orang pencatat wahyu. Sewaktu Abu Bakar As-Sidik menjabat Kholifah beliau memerintahkan mengumpulkan tulisan-tulian Al-Quran yang terpisah-pisah pada Zaid Bin Tsabit. Setelah berkumpul menjadi tulisan maka tulisan-tulisan tersebut disimpan oleh Abu Bakar sendiri. Setelah Abu Bakar wafat , jabatan Kholifah di ganti oleh Umar bin Khotab, dan selanjutnya di simpan oleh Umar bin Khotob, kemudian oleh khalifah, anaknya dan janda mendiang Rasulallah. Setelah jabatan kholifah di pegang oleh Utsman bin Affan, beliau memerintahkan kepada Zaid Bin Tsabit.Abdullah Ibn Zubair dan Said Ibnu Ash untuk menyusunnya dalam satu mushaf yang di kenal dengan mushaf Usmani , sebagaimana di kenal sekarang.

  1. PENYUSUNAN ILMU NAHWU

Karena kesulitan yang banyak di hadapi bangsa dan orang ‘Ajam yang mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an setelah meluasnya Islam dikalangan orang yang berbahasa bukan arab seperti bahasa Khibthi (Mesir) dan bahasa Suryani (Syiria Dan Irak) maka atas saran dan petunjuk Ali Bin Abi Thalib, seorang ahli bahasa bernama Abul Aswad Al Dauly menyusun ilmu nahwu (gramatika arab) untuk membantu dan mempermudah orang asing mempelajari bahasa Al-Qur’an.

  1. MAJLIS KHALIFAH

Semenjak kekuasaan khalifah Abu Bakar sampai khalifah Ali Bin Abi Thalib, atas inisiatif mereka ditimbulkan suatu media untuk menyelesaikan urusan negara, agama dan urusan-urusan lain yang menyangkut tugas khalifah, apa yang dinamakan dengan majlis khalifah. Dimajlis khalifah inilah para khalifah duduk bersama sahabat dan pemuka-pemuka lainnya, juga dengan rakyat umum untuk membicarakan kepentingan umum dan memecahkan permasalahannya bersama dengan mereka. Pada mulanya majlis khalifah ini bertempat di masjid, tetapi pada perkembangan selanjutnya dipindah ke Istana khalifah dan berkembang sebagai salon adabiyah pada masa Umayyah dan mencapai ketenarannya pada masa Abbasiyah. Bahkan akhirnya berfungsi sebagai tempat pertemuan ilmiyah dan pengembann ilmu, sastra yang dihadiri khusus oleh para ulama’ dan sarjana terkemuka dalam banyak bidang ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu.[8]

Usaha-usaha tersebut merupakan langkah yang sangat bermanfaat bagi pengembangan Islam dan ilmu pengetahuan pada masa-masa selanjutnya. Ilmu pengetahuan Islam ternyata telah banyak mendapatkan dorongan maju, terutama dari ajaran Islam sendiri, terbukti dengan munculnya kegiatan pendidikan di beberapa tempat diwilayah kekhalifahaan Islam diantaranya:

  1. Makkah dan Madinah (Hijaz) dengan guru pertamanya Muadz Ibn Jabal di Makkah dan Zaid Ibn Tsabit dan Abdullah ibn Umar di Madinah. Muadz Ibn Jabal mengerjakan Al-Qur’an dan yang bersangkutan dengan yang halal dan yang haram dalam Islam. Zaid Ibn Tsabit di Madinah, sesuai dengan keahliannya mengajarkan qira’at Al-Qur’an dan Ilmu Faraid. Sedang Abdullah ibn Umar sebagai seorang ahli Hadits yang banyak meriwayatkan hadits Rasulullah, beliau mengajarkan dan berfatwa sesuai dengan hadits yang diriwayatkannya.[9]
  2. Kufah (Irak), dengan guru pertamanya Abdullah Ibn Umar. Abdullah Ibn Umar adalah orang pertama yang dikirim oleh khalifah Umar ibn Khattab untuk mengajar di Kufah. Beliau mengajarkan Al-Qur’an, tafsir dan fiqh serta hadits.
  3. Damsyik (Syam), dengan guru-guru pertamanya Muadz Ibn Jabal, Ubadah dan Abu Darda’. Mereka inilah yang dikirimkan khalifah Umar Ibn Khattab untuk menjadi guru disana sesaat setelah Damsyik menganut Islam. Muadz ibn Jabal mengajar di Palestin, Ubadah di Hims sedang Abu Al-Darda’ mengajar di Damsyik. Mereka terutama mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam lainnya.
  4. Fusthat (Mesir), dengan guru pertamanya Abdullah Ibn Amr Ibn Ash. Beliau seorang ahli hadits dan bukan saja menghafal diluar kepala hadits-hadits yang diterimanya dari Rasulullah melainkan juga dituliskannya dalam catatan yang rapi sehingga cukup menjamin keaslian lafal Rasulullah.

Kebanyakan kegiatan pendidikan ini dilaksanakan di masjid dan di Kutab atau Makkah. Kuttab sebagai tempat mengajar al-qur’an dan dasar-dasar agama Islam pada tingkat dasar, sedang tingkat menengah dilaksanakan di masjid. Dari sinilah Dr. Asma Hasan Fahmi menyatakan bahwa Al-Kuttab sebagai tempat mengajarkan al-qur’an dan dasar-dasar agama Islam baru muncul pada masa kekuasaan khalifah Abu Bakar Ash-Siddiq dan Umar ibn Khattab.[10]

Sebenarnya pendidikan dalam arti lembaga baru ada pada masa Khulafaur Rasyidin ini yaitu dengan munculnya Al-Kuttab yang terorganisir secara rapi dan terecana. Tetapi batas tahun 459 H segera memisahkan antara lembaga pendidikan lama dengan lembaga pendidikan modern dengan munculnya madrasah Nidzamiyah yang dirintis pendirinya oleh seorang perdana menteri Nizamul Mulk pada masa Sultan Malik Syah dari Bani Saljuk. Sebagai madrasah modern, Nidzamiyah dilengkapi dengan Yayasan pengelola yang mendukung stabilitas lembaga pendidikan ini. Madrasah ini tersebar dihampir seluruh kota dan pelosok kekuasaan Bani Saljuk diantanya di kota-kota: Bagdad, Naisabur, Isfahan, Basrah Dan Mausul.

Empat khalifah yang pertama pengganti Muhammad bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulut, namun sebagai pengganti Rasululah mereka harus berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para sahabat-sahabat Rasul yang lain.

KESIMPULAN

Khalifah Khulafa’ur Rasyidin (Abu Bakar, Umar inb Khattab, Utsman ibn Affan, dan Ali Bin Abi Thalib) merupakan khalifah pengganti Rasulullah Muhammad. Dengan semangat untuk menyebarkan Islam mereka berusaha keras dengan menyerang daerah-daerah yang tidak mau masuk Islam.

Walaupun menghadapi rintangan yang sangat berat namun semangat mereka tidak pernah hilang. Justru dengan adanya rintangan itulah umat Islam menjadi lebih bersemangat dalam menyebarkan agama Islam. Penyebaran Islam pada masa Khulafa’ur Rasyidin ini bergerak di berbagai bidang, baik dari segi Kekuasaan, Politik, Ekonomi maupun Pendidikan.

Sementara sebagai bukti keberhasilan dibidang pendidikan pada masa Khalifah Khulafa’ur Rasyidin adalah adanya Mushaf Al-Qur’an yang dikenal dengan Mushaf Utsmani, adanya Ilmu Nahwu yang dipeuntukkan orang-orang Islam selain Arab, dan adanya Majlis Khalifah yang digunakan untuk Belajar Umat Islam.

Selain itu sebagai bukti keberhasilan Khalifah Khulafa’ur Rasyidin dibidang pendidikan adalah munculnya Majlis Khalifah yang sudah tersebar di daerah sekitar Makkah dan Madinah. Inilah diantara keberhasilan para Khalifah Rasyidin pada waktu irtu.

PENUTUP

Demikian makalah ini kami buat, tentunya masih banyak kesalahan dan kekurangannya. Untuk itu kritik dan saran yang dapat membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Ibnu Al Khaldun, Muqaddimah, Daar Al Fikr, Beirut.,Cet I, 1998.

Asma Hasan Fahmi, Sejarah Dan Filsafat Pendidikan Islam, Terj. Ibrahim Husain M.A., Bulan Bintang, Jakarta, 1979.

Azzumardi Azra, MA., Pendidikan Tinggi Islam dan Kemajuan Sains, dalam Charles Michaell Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam, Logos, Jakarta, 1994.

Drs. Busjairi Madjidi, Sejarah Pendidikan Islam Bagian Pertama, Penerbit Tiga A,Yogyakarta, 1969.

Karen Amstrong, Islam: A Short History ; Sepintas Sejarah Islam, Ikon Tiralitera, Yogyakarta, 2002.

Lothrop Stoddard, M.A. Ph.D., Dunia Baru Islam, Terj. Prof. Dra. Tudjimah CS, Jakarta, 1966.

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Mutiara, Jakarta, 1966.

Mushthafa ‘Abdus Sami’, Teknolojia At Ta’lim, Markaz Al-Kitab Lin Nasyr, Cairo, 1999.


[1] Dr. Azzumardi Azra, MA., Pendidikan Tinggi Islam dan Kemajuan Sains, dalam Charles Michaell Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam, Logos, Jakarta, 1994, hlm. V.

[2] Karen Amstrong, Islam: A Short History ; Sepintas Sejarah Islam, Ikon Tiralitera, Yogyakarta, 2002, hlm. 29.

[3] Abdurrahman Ibnu Al Khaldun, Muqaddimah, Daar Al Fikr, Beirut.,Cet I, 1998, hal.412.

[4] Mushthafa ‘Abdus Sami’, Teknolojia At Ta’lim, Markaz Al-Kitab Lin Nasyr, Cairo, 1999, hal.10.

[5] Karen Amstrong, Op.Cit., hlm.32-33.

[6] Karen Amstrong, Ibid, hlm. 39-41.

[7] Lothrop Stoddard, M.A. Ph.D., Dunia Baru Islam, Terj. Prof. Dra. Tudjimah CS, Jakarta, 1966, hlm. 12.

[8] Drs. Busjairi Madjidi, Sejarah Pendidikan Islam Bagian Pertama, Penerbit Tiga A,Yogyakarta, 1969, hlm. 26

[9] Prof. H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Mutiara, Jakarta, 1966, hlm. 30.

[10] Dr. Asma Hasan Fahmi, Sejarah Dan Filsafat Pendidikan Islam, Terj. Ibrahim Husain M.A., Bulan Bintang, Jakarta, 1979, hlm. 30.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s