REVOLUSI IQ/EQ/SQ ANTARA NEORUSAINS DAN AL-QUR’AN

Melakukan kajian kecerdasan manusia dengan pandangan agama atau psikologi sudah lumrah. Tapi menilik kecerdasan manusia dari dua aspek—kedokteran dan agama memang suatu hal yang beda. Taufiq Pasiak telah mencoba untuk merumuskan kajian ini—dengan menerbitkan bukunya Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neorusains dan Al-Qur’an.

Al-Qur’an yang disampaikan pada Nabi Muhammad dikembangkan menjadi sebuah ideology yang selanjutnya disebut sebagai agama. Agama itu disebut Islam. Islam sebagai agama memiliki makna yang cukup luas, merupakan petunjuk bagi jalan hidup manusia dan merupakan rahmat bagi seluruh alam. Islam sebagai agama terakhir mengandung prinsip-prinsip ajaran yang lengkap dan meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Agama Islam telah dilahirkan dari gurun pasir (Arab), akan tetapi gurun pasir tidak mengambil bagian sedikitpun dalam penciptaan agama Islam.

Dalam hubungan ini perlu ditegaskan Islam adalah agama. Islam adalah agama pertengahan yang tidak menganjurkan yang berlebihan (ekstrim). Ia memberikan pada manusia dorongan rasional guna memenuhi keinginan rohaniahnya. Agama yang dipercaya sebagai satu sistem kepercayaan bagi suatu komunitas, eksistensinya tidak muncul begitu saja. Ia ada karena fenomena dan realita menuntut keberadaannya. Karenanya beragam alasan menjadikan setiap manusia menganutnya, atau bahkan tidak sama sekali untuk mengakui keberadaannya. Baik karena alasan kultural-empiris maupun  rasionalis-empiris.

Seseorang memeluk satu agama tertentu karena orang tuanya sejak dulu telah mempercayainya. Otomatis, secara geneologis (religion of nature) dia mengakui dan meyakini agama tersebut. Namun tidak demikian dengan golongan dengan alasan terakhir. Mereka boleh jadi tidak meyakini suatu agama yang bagi mereka hanyalah sebagai “anugerah” dan takdir semata. Bagi mereka penerimaan suatu keyakinan yang dalam hal ini adalah agama, tidak bisa main-main. Bahkan lebih tragis lagi mereka lebih memilih sebagai atheis bagi alternatif terbaik. Sebagaimana yang terjadi pada diri seorang Sigmund Freud. Dia lebih menerima klaim sebagai atheis karena baginya seseorang yang beragama itu menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang menderita neurotis (kelainan jiwa). Atau yang dalam asumsinya mengindikasikan bahwa agama tidak lebih dari neurosis kolektif.

Dengan demikian, buku ini menjadi satu khazanah tersendiri yang akan memperkaya kajian psikologi belajar. Tidak salah manakala Prof. dr. J.W. Siagan Guru Besar Patologi Anatomi Manado menilai: Buku ini adalah kacamata tembus pandang; sebelah kiri terbuat dari sains kedokteran dan sebelah kanan dari agama. Hanya kacamata jenis inilah yang dapat mempelajari manusia secara utuh. Apalagi memaparkan “pusat manusia” yaitu otak fungsionalnya dan pantas dibaca siapa saja yang percaya pada kekuatan dahsyat manusia.

PERJALANAN SQ, EQ DAN IQ

Pada bagian awal abad ke-20 IQ pernah menjadi isu besar karena digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Pada tahun 1990-an Daniel Goldman mempopulerkan penelitian dari banyak Neurolog dan Psikolog, menunjukan bahwa EQ yang ditemukan sama pentingnya dengan IQ. Dan pada saat-saat sekarang ini, pada akhir abad ke-20, serangkaian data ilmiah terbaru yang sejauh ini belum banyak dibahas menunujukkan adanya “Q” jenis ketiga, gambaran kecerdasan manusia dengan perbincangan mengenai kecerdasan spiritual (SQ).

SQ adalah kecrdasan untuk mengahadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Menurut Sinetan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang mendapat inspirasi, dorongan dan efektifitas yang terinspirasi, Theisness atau penghayatan ketuhanan yang di dalamnya kita semua menjadi bagian.

Bagi Khalil Khavari, kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi non material kita seperti dua bentuk kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dan diturunkan, akan tetapi kemampuannya untuk ditingkatkan tampaknya tidak terbatas. Dengan nada yang sama Muhammad Zuhri memberikan definisi bahwa SQ adalah kecerdasan manusia yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Potensi SQ setiap orang sangat besar dan tak dibatasi oleh faktor keturunan lingkungan atau materi lainnya.

SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bagi sebagian orang, SQ mungkin menemukan cara pengungkapan melalui agama formal tetapi beragama tidak menjamin SQ tinggi. Banyak orang humanis dan atheis memiliki SQ tinggi, sebaliknya orang yang aktif beragama memiliki SQ rendah.

Banyak bukti ilmiah mengenai SQ sebenarnya ada dalam telaah Neurologi, Psikologi dan Antropologi masa kini tentang kecerdasan manusia, pemikirannya dan proses linguistik. Para ilmuwan telah melakukan penelitian dasar yang mengungkapkan adanya fondasi-fondasi syarat SQ di dalam otak.

Pertama, penelitian oleh Neuro psikolog Michael Persinger di awal tahun 1990-an dan penelitian yang lebih baru pada tahun 1997 oleh Neurology V.S. Rama Candran bersama timnya di Universitas California. Mengenai adanya titik Tuhan (God Spot) dalam otak manusia. Pusat spiritual yang terpasang ini terletak diantara hubungan-hubungan syarat dalam cuping-cuping position, area-area syaraf tersebut akan bersinar manakala subyek penelitian diarahkan untuk mendiskusikan topik spiritual atau agama. Reaksinya berbeda-beda sesuai dengan budaya masing-masing yaitu orang-orang barat menanggapi apa yang bermakna bagi mereka.

Penelitian Rama Candran adalah penelitian pertama kali menunjukkan bahwa cuping itu juga aktif pada orang normal titik Tuhan tidak membuktikan adanya Tuhan tetapi menunjukkan bahwa otak telah berkembang untuk menanyakan pertanyaan pokok untuk memiliki dan menggunakan kepekaan terhadap makna dan nilai yang lebih luas.

Kedua, penelitian Austria Wolf Singer di tahun 1990-an tentang “problem ikatan” membuktikan adanya proses syarat dalam otak yang dicurahkan untuk menyatukan dan memberikan makna pada pengalaman kita semacam proses syarat yang benar-benar mengikat pengalaman kita sebelum adanya penelitian Singer tentang penyatuan dan keharmonisan osilasi syarat di seluruh otak para Neurology dan ilmuwan, kognitif hanya mengakui dua bentuk organisasi syarat otak.

Ketiga, sebagai pengembangan dari penelitian Austria Wolf Singer, penelitian Rodolfo Linas pada pertengahan tahun 1990-an tentang kesadaran saat terjaga dan saat tidur serta ikatan-ikatan peristiwa-peristiwa kognitif dalam otak telah dapat ditingkatkan dengan teknologi MEG (Magneto Encephalographic) baru yang memungkinkan diadakannya penelitian menyeluruh atas bidang-bidang elektis otak yang berisolasi dan bidang-bidang magnetik yang dikaitkan dengannya.

Keempat, Neurolog dan Antropolog biologi Harvard, Terance Deacon baru ini menerbitkan penelitian baru tentang asal-usul bahasa manusia (The Symbolic Species 1997). Deacon membuktikan bahwasannya bahasa adalah sebuah yang unik pada manusia, suatu aktifitas yang pada dasarnya bersifat simbolik dan berpusat pada makna yang berkembang bersama dengan cuping-cuping depan otak komputer atau bahkan monyet yang lebih unggulpun (dengan sedikit pengecualian yang terbatas) tidak ada yang dapat menggunakan bahasa karena mereka tidak memiliki fasilitas cuping depan otak untuk menghadapi persoalan makna.

Dukungan ilmu pengetahuan kepada SQ semakin hari semakin luas. Psikologi, Sains, Teknologi, Manajemen dan Kedokteran kini tampaknya mengarah kepada fenomena SQ. Sekedar contoh buku-buku populer dalam masyarakat mengarah kepada pusat spiritualitas, yakni The Habits of Highly Effective People, Tao of Physic Tao of Leadership, Mozard dan reformasi sufistik. Dukungan kepada SQ lebih dari sekedar bukti-bukti ilmiah. Bila kita kunjungi para tokoh-tokoh agama di Mesir, India, Tibet, Iran atau Indonesia kita akan menemukan kejelasan ini, lebih-lebih bila kita berminat mengkaji sejarah dunia.

Salah satu kajian yang paling menarik adalah buku 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah Karya Michael H Hart, hasil karya Hart itu memberikan hasil untuk 6 tokoh teratas adalah Nabi Muhammad, Issac Neutron, Nabi Isa, Budha, Konghucu dan St Paul, lima dari tokoh tersebut adalah tokoh agama, para pemimpin spiritual jelaslah bahwa manusia yang menentukan sejarah adalah manusia yang memiliki kualitas spiritual atau SQ tinggi.

Secara simbolis Deacon menunujukkan bahwa kita telah menggunakan SQ secara harfiah untuk menumbuhkan otak manusiawi kita. SQ telah menyalakan kita untuk menjadi manusia seperti adanya sekarang dan memberi potensi untuk menyala lagi untuk tumbuh dan berubah serta mengalami lebih lanjut evolusi potensi manusiawi kita. Kita menggunakan SQ untuk menjadi kreatif kita menghadirkannya ketika ingin menjadi luwes berwawasan luas atau spontan secara kreatif.

Akhirnya kita dapat menggunakan SQ kita untuk berhadapan dengan masalah baik dan jahat hidup dan mati, asal dan usul, sejati dari penderitaan dan keputusan manusia. Tanda-tanda dari SQ yang telah berkembang dengan baik mencakup hal-hal sebagai berikut:

  • Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).
  • Tingkat kesadaran yang tinggi.
  • Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
  • Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit.
  • Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
  • Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
  • Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik).
  • Kecenderungan nyata untuk bertanya mengapa? Atau bagaimana jika? Untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
  • Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai bidang mandiri yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Manusia yang memiliki SQ tinggi adalah yang mampu melihat keunggulan dalam keragaman. Seseorang yang memiliki SQ tinggi juga cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian yaitu seseorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi kepada orang lain dan memberikan petunjuk penggunaannya. Dengan perkataan lain seseorang yang memberi inspirasi kepada orang lain.

Secara umum kita dapat meningkatkan SQ dengan meningkatkan penggunaan tersien psikologis kita, yaitu kecenderungan kita untuk bertanya mengapa untuk mencari keterkaitan antara segala sesuatu untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna dibalik atau di dalam sesuatu, menjadi lebih suka merenung, sedikit menjangkau di luar diri kita, bertanggung jawab, lebih bersadar diri, lebih jujur terhadap diri sendiri dan lebih pemberani.

Jelasnya ada 7 cara untuk meningkatkan SQ agar meraih inner peach: Pertama, menyadari dimana posisi saya saat ini; Kedua, memiliki perasaan kuat bahwa saya ingin berubah; Ketiga, merefleksikan apa yang menjadi tujuan dan  motif tersembunyi saya; Keempat, temukan dan atasi rintangan yang menghadang; Kelima, cari dan kenali kemungkinan-kemungkinan lain untuk bisa maju; Keenam, meningkatkan diri pada tujuan yang telah ditetapkan; Ketujuh, tetaplah terbuka pada tujuan-tujuan lain yang mungkin ada. Selain itu juga ada 6 jalan menuju SQ yang lebih tinggi yaitu:

  1. Jalan Tugas
  2. Jalan Pengasuhan
  3. Jalan Pengetahuan
  4. Jalan Perubahan Pribadi
  5. Jalan Persaudraan
  6. Jalan Kepemimpinan yang Penuh Pengabdian

Tidak seperti IQ yang bersifat linier, logis dan rasional. Pertanyaan yang diberikan semata-mata merupakan latihan perenungan. Ada empat kelompok untuk setiap jalan spiritual atau jenis kepribadian:

  1. Survei umum mengenai pengalaman anda yang relevan.
  2. Penghalang umum mencapai kemajuan.
  3. Beberapa tema yang  mungkin untuk kemajuan yang lebih lanjut.
  4. Beberapa aspek transpersonal, atau secara konversional lebih spiritual dari setiap jalan tertentu.

Konsep bombastis ini telah menimbulkan wacana baru dengan ide “SQ Spiritual Intelligence The Ultimate Intelligence”. Selanjutnya SQ dipercaya sebagai tingkatan tertinggi dari intelegensi. Sementara EQ dan IQ adalah bagian integral dari SQ. Kemunculan gagasan ini cukup menggemparkan, yang mendefinisikan ulang apa arti cerdas. Mengapa kecerdasan intelektual (intellectual quotient). Para ahli ilmu jiwa menyebutkan bahwa IQ hanya mempunyai peran sekitar 20% dalam menentukan keberhasilan hidup, sedang 80% sisanya ditentukan oleh faktor lain, termasuk di dalamnya adalah kecerdasan emosi.

Sternberg menceritakan kisah dua mahasiswa yang patut direnungkan, Penn dan Matt. Penn seorang mahasiswa yang cemerlang dan kreatif, sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Universitas Yale. Dengan keluarbiasaan IQ yang dimiliki Penn, seperti dikatakan oleh seorang professor, mahasiswa ini ‘luar biasa sombong’. Penn kendati sangat hebat, tetapi tidak disukai orang lain, terutama yang harus bekerjasama dengannya. Meskipun begitu, ia mengagumkan sekali dalam ujian-ujian tertulis. Ketika lulus, Penn menjadi incaran utama: semua perusahaan terkemuka dalam bidangnya menawarinya wawancara untuk bekerja. Ternyata ia memang yang terbaik, setidak-tidaknya bila dilihat dari ‘prestasi akademik’nya. Namun, keangkuhan Penn begitu nyata dalam wawancara-wawancara tersebut, sehingga hanya satu saja yang menawarinya pekerjaan, itupun dari sebuah perusahaan kelas dua.

Matt, seorang mahasiswa Yale sejurusan dengan Penn, secara akademik tidak begitu cemerlang. Namun, ia pandai bergaul, disukai oleh setiap orang yang bekerjasama dengannya. Sesudah lulus, Matt diterima bekerja oleh tujuh dari delapan perusahaan yang mewawancarainya. Matt terus sukses dalam bidangnya, sementara Penn dipecat kendati baru dua tahun bekerja di perusahaan pertama yang menerimanya. Matt memiliki kecerdasan emosi, sedangkan Penn tidak. Itulah sebabnya mengapa banyak orang yang secara intelektual cerdas seringkali bukanlah orang yang paling berhasil dalam pekerjaan maupun dalam pribadi mereka.

GAGASAN AGAMA

Kecerdasan emosi menunjuk pada suatu kemampuan untuk memahami perasaan diri masing-masing dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi dirinya sendiri, dan menata dengan baik emosi-emosi yang muncul dalam dirinya dan dalam berhubungan dengan orang lain.

Teori psikologi, spiritual intelegensi adalah sebuah rekonstruksi psikologi analitis Jung (Zohar dan Marshall adalah pengikut aliran psikologi analitis Jung yang kreatif) dengan menggunakan teori kuantum sebagi model. Menurut teori ini bahwa proses terbentuknya materi makroskopis bersumber dari vakum kuantum diidentifikasikan yaitu kekosongan mutlak dalam ajaran Budha. Proses selanjutnya pada evolusi kosmik adalah proses peningkatan kesadaran mulai dari intelegensi emosional diikuti oleh tahap intelegensi mental dan berakhir pada tahap intelegensi spiritual yang berujung pada terbentuknya alam semesta. Proses peningkatan kesadaran ini dapat diidentifikasi sebagai proses kembalinya proto-kesadaran dengan vakum kuantum.

Kecerdasan emosi adalah kecerdasan yang dimiliki oleh hewan-hewan. Manusia memiliki kecerdasan emosional dalam kendali ego. Ego inilah yang mencapai kecerdasan mental dan bisa ditingkatkan menjadi kecerdasan spiritual dengan pembentukan diri yang utuh, seperti yang dikenal oleh Carl Gustaf Jung, pendiri psikologi analitis sebagai proses individuasi. Hal ini mengidentifikasi ada enam tipe ego yang diidentifikasinya dengan enam cakra terendah dan tradisi Yoga dan melukiskannya secara indah dalam bentuk bunga teratai bertajuk enam, masing-masing tajuk diidentifikasi dengan ego tertentu.

Gagasan tentang tiga intelegensi, yaitu intelegensi emosional, intelegensi rasional, dan intelegensi spiritual mengingatkan kita tentang adanya tiga fakultas jiwa, yaitu nafs hayawaniyah, nafs nathiqah, dan nafs qudsiyah, dalam filsafat islam tradisional. Dalam tradisi tasawuf ketiganya dikaitkan dengan nafs, aql, dan qalb. Sehingga teori SQ sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Untuk merumuskan kecerdasan spiritual secara Islami, pertama-tama mungkin kita harus mengembalikan ketujuh cakra Yoga itu dalam konsep secara vertikal, lalu menggantinya dengan ekivalennya dalam tradisi tasawuf Islam. Tradisi Islam tidak mengenal konsep cakra tetapi mengenal konsep lathaif atau kumpulan lathifah. Nama-nama latifah ini berbeda-beda untuk thariqat yang berbeda-beda, namun fungsinya sama yaitu sebagai representasi tingkat-tingkat kesadaran.

Apa yang disebut sebagai cakra mahkota yang mencerminkan tingkat tertinggi kesadaran manusia, dalam tradisi thariqat dikenal sebagai nafs kamilah (2:177). Cakra terendah dalam Yoga bersesuaian dengan nafs amarah (12:53). Sedangkan kelima cakra lainnya dari bawah ke atas bersesuaian dengan tingkat-tingkat kesadaran yang disebut nafs lawwamah (75:1-2, 14:22), nafs mulhamah (91:78), nafs muth’mainnah (89:27, 13:27-28), nafs mardhiyyah (89:28, 92:18-20), dan nafs rodhiyah (89:28, 92:21, 45:15). Syeikh Al-Palimbani menyatakan bahwa ketujuh nufus ruhiyah itu dengan ketujuh lathaif yaitu: nafs, qalb, ruh, sirr, sirr as-sirr, khafi dan akhfa.

Agar kita dapat merujuk pada al-Qur’an lebih tepat, mungkin kita dapat mengganti urutan lathaif itu dengan alternatif berikut; jism, nafs (12:53, 50:67), aql (67:10), qalb (2:225, 26:88-89), fu’ad (32:9), lubb (3:190, 12:111) dan ruh (19:17, 32:9). Ketujuh lathaif itu dapat diletakkan pada jalur involusi menurun atau tanazul pada kolom tengah siklus envolusi-devolusi dengan jism diletakkan pada organisme dan ruh diletakkan pada haribaan Maha Pencipta. Sedangkan ketujuh nufus ruhiyah itu kita letakkan pada jalur envolusi menaik dari nafs amarah, yang kesadarannya berpusat pada jism organisme, ke puncak kesadaran nafs kamilah yang berpusat pada tauhid.

Dengan skema tingkat kesadaran Islam ini, tampaklah apa yang disebut kecerdasan spiritual baru sampai pada tataran qalb atau nafs mulhamah yang bersesuaian dengan tataran makna atau meaning. Sedangkan tataran nilai-nilai yang universal dan transendental dapat diidentifikasi dengan tingkat-tingkat spiritualitas yang lebih tinggi yang tak dapat dicapai oleh enam jalur individuasi pada mandala teratai bertajuk enam yang diajukannya.

Semua ini bagi Taufiq Pasiak tergantung pada sirkuit “perintah” otak. Perintah otak disalurkan melalui 2 cara: (1) jalur saraf, sebut saja sirkuit neuronal, dari dan ke otak. Melalui sirkuit ini informasi masuk ke otak kemudian dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi perintah otak yang siap dilaksanakan. Komponen otak, saraf otak dan saraf tulang belakang merupakan pelaku-pelakunya, dan (2) jalur kimiawi, yang disebut sirkuit biokimia. Jalur ini biasa menggunakan darah sebagai alat transportasinya.

Itupun juga terkadang kepandaian dan keserdasan manusia masih sulit digapai. Karena otak manusia masih banyak yang “gelap”. Taufiq Pasiak selajutnya menggambarkan peta otak para ahli Amerika dengan Brain Project. Sisi gelap otak manusia adalah ketika ia bekerja. Ketika dunia memuai, otak manusia pun memuai melalui jalinan saraf dan keterkaitan sel-selnya. Wallahu a’lam bish-showab.

***

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s