SPIRITUAL QUOTION (SQ)

I.             PENDAHULUAN

Pada bagian awal abad ke-20 IQ pernah menjadi isu besar karena digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Pada tahun 1990-an Daniel Goldman mempopulerkan penelitian dari banyak Neurolog dan Psikolog, menunjukan bahwa EQ yang ditemukan sama pentingnya dengan IQ.

Dan pada saat-saat sekarang ini, pada akhir abad ke-20, serangkaian data ilmiah terbaru yang sejauh ini belum banyak dibahas menunujukkan adanya “Q” jenis ketiga, gambaran kecerdasan manusia dengan perbincangan mengenai kecerdasan spiritual (SQ).

II.  PEMBAHASAN

  1. Pengertian

SQ menurut orang yang pertama kali menerapkan konsep ini yaitu Danah Zohar SQ adalah kecrdasan untuk mengahadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.[1]

Menurut Sinetan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang mendapat inspirasi, dorongan dan efektifitas yang terinspirasi, Theisness atau penghayatan ketuhanan yang di dalamnya kita semua menjadi bagian.

Sementara menurut Khalil Khavari, kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi non material kita seperti dua bentuk kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dan diturunkan, akan tetapi kemampuannya untuk ditingkatkan tampaknya tidak terbatas.

Dengan nada yang sama Muhammad Zuhri memberikan definisi bahwa SQ adalah kecerdasan manusia yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Potensi SQ setiap orang sangat besar dan tak dibatasi oleh faktor keturunan lingkungan atau materi lainnya.[2]

SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bagi sebagian orang, SQ mungkin menemukan cara pengungkapan melalui agama formal tetapi beragama tidak menjamin SQ tinggi. Banyak orang humanis dan atheis memiliki SQ tinggi, sebaliknya orang yang aktif beragama memiliki SQ rendah.

  1. Bukti Ilmiah Mengenai SQ

Banyak bukti ilmiah mengenai SQ sebenarnya ada dalam telaah Neurologi, Psikologi dan Antropologi masa kini tentang kecerdasan manusia, pemikirannya dan proses linguistik. Para ilmuwan telah melakukan penelitian dasar yang mengungkapkan adanya fondasi-fondasi syarat SQ di dalam otak.

Pertama, penelitian oleh Neuro psikolog Michael Persinger di awal tahun 1990-an dan penelitian yang lebih baru pada tahun 1997 oleh Neurology V.S. Rama Candran bersama timnya di Universitas California. Mengenai adanya titik Tuhan (God Spot) dalam otak manusia. Pusat spiritual yang terpasang ini terletak di antara hubungan-hubungan syarat dalam cuping-cuping position, area-area syaraf tersebut akan bersinar manakala subyek penelitian diarahkan untuk mendiskusikan topik spiritual atau agama. Reaksinya berbeda-beda sesuai dengan budaya masing-masing yaitu orang-orang barat menanggapi apa yang bermakna bagi mereka.

Penelitian Rama Candran adalah penelitian pertama kali menunjukkan bahwa cuping itu juga aktif pada orang normal titik Tuhan tidak membuktikan adanya Tuhan tetapi menunjukkan bahwa otak telah berkembang untuk menanyakan pertanyaan pokok untuk memiliki dan menggunakan kepekaan terhadap makna dan nilai yang lebih luas.

Kedua, penelitian Austria Wolf Singer di tahun 1990-an tentang “problem ikatan” membuktikan adanya proses syarat dalam otak yang dicurahkan untuk menyatukan dan memberikan makna pada pengalaman kita semacam proses syarat yang benar-benar mengikat pengalaman kita sebelum adanya penelitian Singer tentang penyatuan dan keharmonisan osilasi syarat di seluruh otak para Neurology dan ilmuwan, kognitif hanya mengakui dua bentuk organisasi syarat otak.

Ketiga, sebagai pengembangan dari penelitian Austria Wolf Singer, penelitian Rodolfo Linas pada pertengahan tahun 1990-an tentang kesadaran saat terjaga dan saat tidur serta ikatan-ikatan peristiwa-peristiwa kognitif dalam otak telah dapat ditingkatkan dengan teknologi MEG (Magneto Encephalographic) baru yang memungkinkan diadakannya penelitian menyeluruh atas bidang-bidang elektis otak yang berisolasi dan bidang-bidang magnetik yang dikaitkan dengannya.

Keempat, Neurolog dan Antropolog biologi Harvard, Terance Deacon baru ini menerbitkan penelitian baru tentang asal-usul bahasa manusia (The Symbolic Species 1997) Deacon membuktikan bahwasannya bahasa adalah sebuah yang unik pada manusia, suatu aktifitas yang pada dasarnya bersifat simbolik dan berpusat pada makna yang berkembang bersama dengan cuping-cuping depan otak komputer atau bahkan monyet yang lebih unggulpun (dengan sedikit pengecualian yang terbatas) tidak ada yang dapat menggunakan bahasa karena mereka tidak memiliki fasilitas cuping depan otak untuk menghadapi persoalan makna.

Dukungan ilmu pengetahuan kepada SQ semakin hari semakin luas. Psikologi, Sains, Teknologi, Manajemen dan Kedokteran kini tampaknya mengarah kepada fenomena SQ. Sekedar contoh buku-buku populer dalam masyarakat mengarah kepada pusat spiritualitas,[3] yakni The Habits of Highly Effective People, Tao of Physic Tao of Leadership, Mozard dan reformasi sufistik.

Dukungan kepada SQ lebih dari sekedar bukti-bukti ilmiah. Bila kita kunjungi para tokoh-tokoh agama di Mesir, India, Tibet, Iran atau Indonesia kita akan menemukan kejelasan ini, lebih-lebih bila kita berminat mengkaji sejarah dunia.

Salah satu kajian yang paling menarik adalah buku 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah Karya Michael H Hart, hasil karya Hart itu memberikan hasil untuk 6 tokoh teratas adalah Nabi Muhammad, Issac Neutron, Nabi Isa, Budha, Konghucu dan St Paul, lima dari tokoh tersebut adalah tokoh agama, para pemimpin spiritual jelaslah bahwa manusia yang menentukan sejarah adalah manusia yang memiliki kualitas spiritual atau SQ tinggi.[4]

  1. Menggunakan SQ

Secara simbolis Deacon menunujukkan bahwa kita telah menggunakan SQ secara harfiah untuk menumbuhkan otak manusiawi kita. SQ telah menyalakan kita untuk menjadi manusia seperti adanya sekarang dan memberi potensi untuk menyala lagi untuk tumbuh dan berubah serta mengalami lebih lanjut evolusi potensi manusiawi kita.

Kita menggunakan SQ untuk menjadi kreatif kita menghadirkannya ketika ingin menjadi luwes berwawasan luas atau spontan secara kreatif.

Akhirnya kita dapat menggunakan SQ kita untuk berhadapan dengan masalah baik dan jahat hidup dan mati, asal dan usul, sejati dari penderitaan dan keputusan manusia.

Tanda-tanda dari SQ yang telah berkembang dengan baik mencakup hal-hal sebagai berikut:

  • Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).
  • Tingkat kesadaran yang tinggi.
  • Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
  • Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit.
  • Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
  • Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
  • Kecenederungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik).
  • Kecenederungan nyata untuk bertanya mengapa? Atau bagaimana jika? Untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
  • Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai bidang mandiri yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.[5]

Manusia yang memiliki SQ tinggi adalah yang mampu melihat ketunggalan dalam keragaman. Seseorang yang memiliki SQ tinggi juga cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian yaitu seseorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi kepada orang lain dan memberikan petunjuk penggunaannya. Dengan perkataan lain seseorang yang memberi inspirasi kepada orang lain.

D.  Meningkatkan SQ

Secara umum kita dapat meningkatkan SQ dengan meningkatkan penggunaan tersien psikologis kita, yaitu kecenderungan kita untuk bertanya mengapa untuk mencari keterkaitan antara segala sesuatu untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna dibalik atau di dalam sesuatu, menjadi lebih suka merenung, sedikit menjangkau di luar diri kita, bertanggung jawab, lebih bersadar diri, lebih jujur terhadap diri sendiri dan lebih pemberani.

Jelasnya ada 7 cara untuk meningkatkan SQ agar meraih inner peach:

Pertama :    Menyadari di mana posisi saya saat ini.

Kedua    : Memiliki perasaan kuat bahwa saya ingin berubah.

Ketiga    :    Merefleksikan apa yang menjadi tujuan dan  motif tersembunyi saya.

Keempat :    Temukan dan atasi rintangan yang menghadang.

Kelima   :    Cari dan kenali kemungkinan-kemungkinan lain untuk bisa maju.

Keenam : Meningkatkan diri pada tujuan yang telah ditetapkan.

Ketujuh :  Tetaplah terbuka pada tujuan-tujuan lain yang mungkin ada.[6]

Pada bab lain Zohar mengungkapkan ada 6 jalan menuju SQ yang lebih tinggi yaitu:

  1. Jalan Tugas
  2. Jalan Pengasuhan
  3. Jalan Pengetahuan
  4. Jalan Perubahan Pribadi
  5. Jalan Persaudraan
  6. Jalan Kepemimpinan yang Penuh Pengabdian

Tidak seperti IQ yang bersifat linier, logis dan rasional. Pertanyaan yang diberikan semata-mata merupakan latihan perenungan.

Ada empat kelompok untuk setiap jalan spiritual atau jenis kepribadian:

  1. Survei umum mengenai pengalaman anda yang relevan.
  2. Penghalang umum mencapai kemajuan.
  3. Beberapa tema yang  mungkin untuk kemajuan yang lebih lanjut.
  4. Beberapa aspek transpersonal, atau secara konversional lebih spiritual dari setiap jalan tertentu.

Konsep Zohar dan Manshal yang bombastis telah menimbulkan wacana baru dengan terbitnya buku yang ketiga yang berjudul “SQ Spiritual Intelligence The Ultimate Intelligence”. Bahwa SQ dipercaya sebagai tingkatan tertinggi dari intelegensi. Sementara EQ dan IQ adalah bagian integral dari SQ.

III.       KESIMPULAN

Dari uraian kami di atas dapat kami ambil suatu benang merah bahwa SQ merupakan kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna.

Seorang dikatakan ber-SQ tinggi dikatakan Dr Dimitri Muhayana mempunyai ciri-ciri di antaranya:

  1. Mempunyai visi dan misi yang kuat.
  2. Mampu melihat kesatuan dan keragaman.
  3. Mampu memaknai setiap sisi kehidupan.
  4. Mampu mengelola dan bertahan dalam kesulitan dan penderitaan.[7]

IV.        PENUTUP

Demikianlah makalah dari kami, saran dan kritik yang konstruktif sangat kami butuhkan, demi sempurnanya makalah kami ini semoga dapat bermanfaat. Amiin.

DAFTAR PUSTAKA

Zohar, Danah,“SQ” Pengantar Jalaluddin Rakhmat, Mizan, Bandung, Cet. IV, 2002

Nggermanto, Agus,Ir, Quantum Quotient, Pengantar Dr Dimtri Mahayang, M.Ed.

Majalah Edukasi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang Edisi 27/ th X/ Februari/ 2003


[1] Danah Zohar “SQ” Pengantar Jalaluddin Rakhmat, Mizan, Bandung, Cet. IV, 2002

[2] Ir. Agus Nggermanto, Quantum Quotient, Pengantar Dr Dimtri Mahayang, M.Ed, hal. 117

[3] Ir. Agus Nggermanto, op. Cit, hal. 121

[4] Ibid, hal. 125

[5] Danah Zohan, op. Cit.

[6] Drs. Fatah Syukur, M. Ag, Dalam Kecerdasan Spiritual Dalam Islam Kritik Terhadap Konsep SQ, Edukasi Edisi 27/ th X/ Februari/ 2003

[7] Ir. Agus Nggermanto, Quantum Quotient, hal. 123

1 Komentar

  1. 5 duyu olarak verdiğimiz hizmetler,depresyon,panik atak,depresyon tedavisi,panik atak tedavisi,ilaçsız depresyon tedavisi,tms tedavisi,manyetik uyarım,tms,evlilik danışmanı,evlilik danışmanlığı,evlilik terapisi,aile terapisi,ilişki terapisi,psikoterapi,anksiyete bozukluğu ve yaşam koçu dur.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s